Your Bio

BASRI MARZUKI
(PALU, CENTRAL SULAWESI, INDONESIA)

Basri Marzuki, staff photographer since 2001 at newspaper in Palu, Central Sulawesi. Contributing for domestic and international Photo Agency, freelance.

Currently he is participating in the photojournalism workshop with Panna Institute of Photography and World Press Photo sponsored by Jakarta Foreign Correspondent Club.

ADDRESS
Kompleks BTN Lasoani Bawah Blok H8 No.2,
Palu, Central Sulawesi, Indonesia - 94116

MOBILE
62 816 24 0165

EMAIL
basri_marzuki@yahoo.com
basri.marzuki@gmail.com

PERSONAL WEBSITE http://basrimarzuki.smugmug.com; http://basrimarzuki.multiply.com

Galleries

Portrait :

Portrait

Updated: Jun 30, 2008 4:15pm

Kapotia Nulibu Ada : Kapotia Nulibu Ada

Foto dan Naskah: Basri Marzuki

GEMA pelestarian lingkungan membahana kemana-mana. Namun di Dataran Lindu, sebuah pelosok sekitar 120 kilometer ke timur Sulawesi Tengah atau di sekitar kawasan Danau Lindu, masyarakatnya sudah memiliki tradisi untuk menjaga lingkungannya.
Kamis (5-6-2008) lalu, sebuah kegiatan adat dilakukan dalam rangka pelestarian lingkungan tersebut. Kegiatan bernama Kapotia Nulibu Ada atau permusyawaratan adat itu menghadirkan para tetua adat. Pokok bahasannya adalah bagaimana menjaga lingkungan dengan menegakkan hukum adat yang telah berlaku turun-temurun.
Ketua-ketua adat dari empat desa yang masuk dalam kawasan tersebut duduk bersila dipimpin seorang ketua adat yang membawahi ketua-ketua adat dari empat desa tersebut. Mereka mendiskusikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan setiap individu dalam kaitan interaksi sosial dan lingkungannya. Tak hanya itu, sanksi-sanksinya juga ikut ditetapkan.
Mereka saling berbagi dan kerap kali harus berdebat untuk mencapai sebuah kesepakatan
adat yang nantinya akan menjadi pedoman hubungan sesame manusia dan kepada lingkungan. Salah satu poinnya adalah, siapa-siapa yang ditemukan menebang pohon akan dikenakan sanksi berupa satu ekor kerbau. Kesepakatan lainnya, siapa-siapa yang ditemukan menangkap ikan di Danau Lindu ketika sedang dalam masa umbo (moratorium penangkapan) juga akan didenda satu ekor kerbau.
Tak sekadar membuat kesepakatan, kesepahaman itu disakralkan dengan menyembelih seekor kerbau hitam yang darahnya akan digunakan sebagai tinta untuk cap jempol lima jari pada kain putih. Semua pemuka adat harus melakukan cap jempol sebagai tanda persetujuan penegakan hkum adapt. Siapapun yang melanggar akan disanksi sesuai kesepakatan itu.
Daging kerbau yang disembelih dimasak ramai-ramai yang kemudian disajikan untuk dinikmati secara bersama-sama. Ketegangan, kerisauan dan bahkan kecemasan dalam proses pencapaian kesepakatan hilang dengan serta merta ketika sajian makanan dihamparkan oleh putri-putri warga setempat. ***

Kapotia Nulibu Ada

Kapotia Nulibu Ada Foto dan Naskah: Basri Marzuki GEMA pelestari ...

Updated: Jun 07, 2008 8:06pm

On Media :

On Media

Updated: Jan 10, 2008 5:08pm

Bad Nutritious :

Bad Nutritious

Updated: Oct 16, 2007 6:03pm

New Member :

New Member

Updated: Oct 05, 2007 3:41am

Autis : Waktu masih menunjukkan pukul 07.00, tapi Ihsan (7) sudah muncul di depan pintu Sekolah Terpadu Permata Hati. Itu adalah rutinitas Ihsan sejak dua tahun terakhir ini. Ia dideteksi menderita autis sejak berusia 9 bulan. Menu paginya sebelum belajar adalah dibujuk. Yah… Ihsan harus dibujuk oleh gurunya kerena ia tidak selalu siap untuk belajar.
Kerap kali guru harus bergulat di kelas, apalagi jika Ihsan benar-benar sedang tidak mood. Mengamuk sudah menjadi hal biasa dan kepiawaian guru sungguh dibutuhkan. Tak jarang Ihsan harus dibelai, tapi tak jarang pula kakinya harus dijepit oleh kaki gurunya jika tetap saja tidak bisa tenang. Gejala umum yang dihadapi anak penderita autis adalah sulitnya berkonsentrasi terhadap suatu hal. Ia memiliki dunianya sendiri.
Ihsan memiliki karakter yang berbeda dengan kebanyakan penderita autis lainnya. Ia begitu menggandrungi musik, suatu karakter yang sangat langka. Musik adalah dunianya, dan semuanya harus terbangun dengan dunia yang ada di kepalanya itu. Suatu kali, ia diminta gurunya menuliskan kata “kursi”, tapi yang ditulisnya justru kata “Bon Jovi, Backstreet, Westlife”. Suatu kali pula ia diminta menyebutkan benda-benda yang ada di depannya, tapi justru senandung “Akhirnya Aku Menemukanmu” milik Naff yang meluncur dari bibirnya.
“Tak seorang pun orang tua yang menghendaki hal ini, tapi jika itu menimpa, kita tak boleh berputus asa atau menyalahkan siapa-siapa. Yang harus kita lakukan adalah mengenali kebutuhannya dan membantunya,” kata Ir Fitriani Kartawan MSi, pimpinan Sekolah Terpadu Permata Hati. 
Tapi Ihsan masih beruntung dibanding banyak anak penderita autis lainnya. Orang tuanya sangat menyadari kebutuhan khusus bagi anaknya. Sekolah terapi adalah sarana untuk membantu Ihsan memahami bahwa ada dunia luar selain dirinya. Pengertian yang mendalam untuk membantunya terus ditunjukkan. Di lingkungan rumah, Ihsan nyaris tak berbeda dengan anak-anak sebayanya.
Orang tua Ihsan bersyukur, melalui terapi khusus itu, lambat tapi pasti ia mulai menyadari dunia luar tersebut. Ihsan mulai paham makna lingkungan dan keteraturan yang ada di dalamnya.

Autis

Waktu masih menunjukkan pukul 07.00, tapi Ihsan (7) sudah muncul di de ...

Updated: Sep 10, 2007 8:45pm

Senin Kelabu : "Pendeta Itu Telah Tiada"

Senin, 16 Oktober 2006 menjadi hari kelabu bagi keluarga Kongkoli. Betapa tidak, Senin pagi itu sebuah letupan dari pistol revolver menewaskan salah seorang anggota keluarganya, yakni Irianto Kongkoli. Tragedi itu mengejutkan banyak pihak, bukan hanya karena Irianto yang menyandang atribut sebagai seorang pendeta, penembakan itu juga menjadi rangkaian aksi teror dan kekerasan yang terus terjadi di Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah pasca konflik berdarah di Poso.

Senin Kelabu

"Pendeta Itu Telah Tiada" Senin, 16 Oktober 2006 menjadi hari kelab ...

Updated: Sep 06, 2007 2:11pm

Bridge Gallery : “Anak-Anak Ini Harus Tetap Sekolah”

SEJAK Sabtu (25/8/2007) pagi, tidak ada pelajaran seperti biasanya. Pasangan Sri Rosiati dan Sri Irianingsih yang juga saudara kembar hanya terlihat sibuk memerintahkan anak didiknya mengangkut bongkahan batu bata bekas dinding sekolahan yang baru saja dibongkar. Yah.. hari itu menjadi hari terakhir bagi Sekolah Darurat Kartini Gratis yang dikelolanya sejak 11 tahun lalu di kolong jembatan tol Pluit, Jakarta Utara.
Ratusan anak didiknya yang seluruhnya adalah anak jalanan mulai dari TK, SD, SMP dan SMU terlihat sibuk mengangkat bongkahan batu tersebut ke atas truk yang sudah siap di pinggir jembatan. Batu-bata tersebut akan dipakai untuk mengeraskan lantai di sekolah baru di lahan pinjaman tak jauh dari sekolah sebelumnya. Sebagian siswa-siswi lainnya juga sibuk mengangkat bangku-bangku dan perlengkapan sekolah lainnya termasuk peralatan masak.
Sekolah itu memang sepenuhnya dikelola oleh Rosi dan Rian – panggilan akrabnya. Semua keperluan sekolah tersebut dibiayai dari kocek pribadi saudari kembar tersebut mencapai Rp25 juta setiap bulannya.
Sekolah itu dibangun ketika 11 tahun lalu ban mobilnya bocor di sekitar tempat itu. Ia memperhatikan suasana di sekitarnya. Ia prihatin karena begitu banyak anak-anak jalanan di sekitar lokasi itu yang tidak bersekolah. 
Dari sekolah darurat gratis bagi anak jalanan yang didirikannya itu, saat ini sejumlah alumninya dinilai sudah ‘berhasil’. Diantara mereka ada yang sudah menjadi polisi, pegawai dan sebagainya. 
Banyak suka duka yang dialaminya selama menangani sekolah itu. Maklum saja, anak didiknya adalah anak jalanan yang terus diburu oleh desakan ekonomi. Suatu ketika, sejumlah peralatan sekolahnya hilang, tapi ia tak kapok untuk hal itu. Mereka terus saja melengkapi kebutuhan anak didiknya.
Empat tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pernah menjanjikan akan membangunkan sekolah secara permanen di tempat yang lebih layak, namun hingga menjelang berakhir periodenya, janji tersebut tak kunjung terealisir sampai keluarnya instruksi memindahkan sekolah tersebut untuk membersihkan kolong jembatan.
“Kita mau apa lagi. Tapi syukurlah karena saya sudah mendapat tempat baru, meski merupakan lapangan kering dan hanya beratap tenda plastik, saya tetap berusaha melanjutkan sekolah ini. Anak-anak ini harus tetap sekolah,” tegasnya. ***

Bridge Gallery

“Anak-Anak Ini Harus Tetap Sekolah” SEJAK Sabtu (25/8/2007) pagi, ...

Updated: Sep 04, 2007 12:16pm

Single :

Single

Updated: Sep 03, 2007 3:00pm